Batik dapat didesign menjadi busana yang keren dan modis sebagai salah satu upaya untuk melestarikan budaya warisan Indonesia. Pagelaran NGAWI BATIK FASHION SHOW merupakan ajang bagi para designer batik yang ada di Kabupaten Ngawi agar lebih inovatif dan kreatif, dalam merancang sebuah busana dengan tanpa menghilangkan kearifan lokal yang ada.
Saat ini, batik tengah berada di puncak popularitas di kalangan generasi millennial. Busana batik tidak hanya digunakan pada acara seremonial, tetapi juga digunakan dalam acara informal dan santai. Batik dapat dimodifikasi dengan trend fashion modern saat ini sehingga generasi muda lebih antusias lagi dalam melestarikannya.
Generasi muda millennial sudah seharusnya memahami bahwa batik tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang penting dalam acara formal saja, tetapi juga dapat dijadikan sebagai outfit yang fashionable. Batik juga dapat dipakai dalam keseharian seperti di area rumah, kampus, dan lingkungan sekitar.
Melalui survey kuisioner sederhana oleh 50 responden generasi millennial, penulis melakukan analisa data secara deskriptif. Melalui data deskriptif yang didapatkan, penulis melakukan analisa dengan mengeksplorasi jawaban responden atas beberapa pertanyaan yang meliputi alasan harus melestarikan batik.
Berbusana batik pada generasi muda terbagi menjadi beberapa alasan, mulai dari karena batik adalah identitas khas Indonesia, keindahan motif, corak, dan nilai seni (estetika), prestise (keanggunan, elegan, berwibawa, berkelas), fashionable (up to date, keren, modis), dan fleksibilitas (cocok untuk semua acara).
Estetika adalah cabang ilmu dari bidang filsafat tentang seni, keindahan, kepekaan dan tanggapan terhadap seni dan keindahan. Berkaitan dengan definisi tersebut, jawaban responden yang menilai batik estetik adalah tentang motif, corak, keindahan, dan nilai seni pada batik yang menarik perhatian mereka.Batik juga dapat memunculkan keindahan motif, corak, dan nilai seni tersendiri bagi pemakainya.
Di era globalisasi saat ini, batik tidak lagi hanya memiliki warna yang monoton, namun sudah terdapat berbagai kombinasi warna seperti merah, oranye, hijau, dan kuning. Batik dengan motif parang dan floral merupakan motif batik yang tidak akan lekang oleh waktu dan dapat disulap menjadi busana manis dan modis bagi generasi millennial.
Fashion batik juga memiliki nilai prestise yang elegan, anggun, dan berwibawa bagi pemakainya. Prestise adalah ketenaran status sosial dan kehormatan dalam kehidupan sehari-harinya. Status sosial sering disebut sebagai kedudukan individu dalam kelompok masyarakatnya dimana hal tersebut berhubungan dengan ketenaran. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa berbusana batik membuat responden merasa elegan, anggun dan berwibawa sehingga hal tersebut mengarah kepada prestise akan busana batik.
Beberapa responden juga berpendapat bahwa berbusana batik membuat mereka merasa fashionable. Fashionable sendiri memiliki suatu makna “conforming to the fashion or established mode” yang sering kita sebut keren, modis dan up to date.
Batik juga dapat dipakai dalam acara formal maupun informal (Iriani, 2013). Responden merasa bahwa batik dapat dipakai sebagai style casual maupun formal dan bahkan bisa dipakai untuk bersantai. Oleh karena itu, batik dapat dikatakan memiliki keluwesan saat dipakai sehingga berhubungan dengan fleksibilitas.
Perilaku generasi muda berbusana batik terjadi karena alasan batik merupakan identitas khas bangsa, estetika, prestise, fashionable, dan fleksibilitas busana batik. Motif batik juga memiliki nilai filosofis yang menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda. Batik memang masih dianggap klasik dan terlalu formal oleh beberapa pemuda millennial, akan tetapi juga sudah banyak yang menganggap batik adalah busana yang modis dalam kehidupan modern saat ini.